negaraislam

NEGARAISLAM.COM, – Aksi heroik perlawanan rakyat dan pejuang oposisi di Aleppo timur yang terkepung, sebagian besar adalah penduduk lokal Suriah, bukan pejuang asing sebagaimana yang kerap digambarkan oleh media Barat. Demikian laporan seorang jurnalis yang terjebak di tempat paling berbahaya di dunia saat ini.

Wartawan AS, Bilal Abdul Karim On The Spot

Bilal Abdul Karim yang berasal dari New York datang ke Aleppo empat bulan yang lalu saat mujahidin berhasil menembus blokade dan kepungan musuh, yaitu rezim Bashar Assad dan sekutu-sekutunya. Namun misi jurnalistik yang seharusnya hanya tiga hari itu kini diperpanjang menjadi empat bulan, karena tidak mungkin baginya untuk pergi dari Aleppo yang terkepung, kecuali jika ia mau berjalan meninggalkan wilayah oposisi dan menyerahkan diri ke tangan pasukan pemerintah Assad.

“Saya seorang berkulit hitam dan berjenggot,” kata Bilal. “Saya tidak yakin akan bisa bertahan (hidup) lebih lama jika berada bersama pasukan rezim,” kata Bilal Abdul Karim merujuk kepada laporan-laporan PBB bahwa ratusan pria dinyatakan hilang pekan lalu setelah mereka menyeberang ke wilayah yang dikuasai pemerintah.

Jurnalis seperti Bilal Abdul Karim sendiri nampaknya betul-betul tidak punya gambaran tentang bagaimana situasi ke depan. Dalam satu wawancara eksklusif bertepatan dengan Hari Hak Asasi Manusia, ia mengatakan,”Kami di sini, saat ini sedang hidup dengan meminjam waktu (dekat dengan kematian -red), namun kita masih punya kesempatan baik untuk menang.”

Dalam sebuah pesan video beberapa hari lalu, Bilal mengungkapkan rasa terima kasih kepada warga Aleppo. Dia terkesan dengan kerahaman dan pelayanan warga. Meski mereka hidup susah di bawah kepungan, namun mereka masih memuliakan tamu.

Mayoritas Warga Aleppo Ingin Bertahan

Meskipun situasinya terlihat begitu suram di mana pasukan Assad dilaporkan telah mengambil alih sekitar 85 persen wilayah Aleppo bagian timur dari tangan pasukan oposisi dalam beberapa pekan terakhir, Bilal Abdul Karim mengatakan bahwa sangat penting bagi masyarakat di seluruh dunia untuk tidak salah memahami apa yang sedang terjadi di Aleppo.

Bilal menjelaskan, hingga saat ini masih ada sekitar 300.000 rakyat Suriah yang terjebak dan terkepung di bagian timur Aleppo, namun hanya 10.500 orang saja yang memilih untuk keluar pada hari Kamis yang lalu selama waktu jeda misi kemanusiaan. Jumlah warga yang keluar pekan lalu itu telah terkonfirmasi oleh semua pihak, termasuk pejabat-pejabat Rusia dan pengamat PBB. Diperkirakan jumlah warga yang masih bertahan di Aleppo berkisar antara 100.000 hingga 300.000 orang.

Pejuang Mujahidin Masih Sangat Kuat

Dalam sebuah wawancara OGN (On the Ground News) dengan komandan oposisi Abu al-‘Abad diketahui bahwa dari segi militer sesungguhnya situasinya sangat baik dalam artian bahwa para pejuang mujahidin sangat kuat, meskipun terjadi serangan yang begitu agresif oleh rezim dengan dukungan Rusia, Iran, dan milisi-milisi Syiah dari seluruh dunia”.

“Rezim penjahat ini terus membombardir warga sipil, perempuan, anak-anak, dan orang-orang lanjut usia. Hal inilah yang membuat kami semakin sulit. Para mujahidin menolong korban sipil dengan membantu mengeluarkan mereka, termasuk anak-anak dari reruntuhan bangunan. Dan di waktu yang sama, mujahidin harus melindungi mereka dari kejahatan rezim Assad dan sekutu-sekutunya,” jelas al-‘Abad.

Warga yang Berusaha Keluar Hilang di Wilayah Rezim

“Jika begitu banyak orang memilih untuk tetap berada dalam situasi terkepung dengan tanpa ada makanan dan kenyamanan, dan mereka memilih menghadapi resiko bom-bom birmil dan bunker-bunker kosong setengah rusak, hujan bom artileri dan rudal,” ia (Bilal) bertanya, “Apa yang dikatakan kepadamu tentang rezim Bashar Assad?” Ia tegaskan, (di sini) tidak ada orang yang dipaksa untuk tetap tinggal/bertahan. “Faktanya adalah, orang-orang yang mencoba keluar, ratusan pria di antara mereka hilang. Dari situ kita bisa mengerti aktifitas (baca: kejahatan) macam apa kira-kira yang dilakukan oleh pasukan rezim Suriah.”

Kekhawatiran Abdul Karim akan keselamatan kaum laki-laki yang keluar meninggalkan wilayah oposisi senada dengan pernyataan juru bicara Komisi Hak Asasi Manusia PBB, Rupert Colville, “Mengingat catatan buruk penahanan yang dilakukan dengan sewenang-wenang, penyiksaan, dan penghilangan nyawa seseorang secara paksa oleh pemerintah/rezim Suriah, kami tentu saja sangat prihatin mengenahi nasib orang-orang itu.” Menurut laporan-laporan yang diterima Colville, bahwa para pria berusia antara 30 dan 50 tahun dipisahkan dari keluarga-keluarga mereka, sementara sisanya para pengungsi itu dilaporkan harus menghadapi interogasi dan kartu identitas mereka disita.

Melawan Narasi “Seluruh Pejuang Adalah Teroris”

Hal lain yang ingin diluruskan oleh Abdul Karim adalah tentang kehadiran pejuang-pejuang asing. “Saya pernah ketemu tiga orang dari Mesir dan satu orang Uzbekistan, namun sisanya adalah pejuang-pejuang lokal Aleppo dan warga Suriah lainnya dari kelompok FSA”.

Abdul Karim mengakui belum berbicara dengan semua orang yang ada di lapangan, tetapi ia tahu bahwa banyak orang yang ada di Aleppo dan para pejuang adalah penduduk lokal. “Ketika saya mewawancarai mereka, mereka menunjukkan rumah-rumah dan nama jalan tempat tinggal mereka.

Ada satu narasi yang terus digembar-gemborkan bahwa para pejuang oposisi merupakan orang-orang asing, dan seluruh pejuang itu adalah teroris. Ini sama sekali tidak benar. Satu-satunya teroris di Suriah adalah Daesh (ISIS), dan mereka tidak ada di Aleppo.”

Tipu Daya Amerika dan Rusia

Abdul Karim mengingatkan, ketika Rusia mulai melibatkan diri dalam perang setahun yang lalu, Putin mengumumkan bahwa mereka ingin menghancurkan kelompok ISIS. “Jika memang itu benar, mengapa Rusia mengebom orang-orang baik laki-laki, perempuan, dan anak-anak di Aleppo?”

Abdul Karim meyakini bahwa AS juga ikut bermain dengan melakukan penyesatan informasi. Menurutnya, sangat jelas bahwa Washington memanfaatkan isu soal ISIS untuk melegitimasi kehadirannya di kawasan itu. “Bukankah sangat mudah bagi pesawat-pesawat Inggris dan AS menjatuhkan makanan dan obat-obatan di Aleppo?” tanyanya retoris. “Jika mereka bisa membombardir ISIS, (tentu) mereka juga bisa membombardir kami dengan bantuan kemanusiaan.”

Inisiatif dan Protes di Inggris

Di Inggris, seorang aktifis hak asasi manusia, Peter Tatchell menginterupsi pemimpin Partai Buruh Jeremy Corbyn saat berpidato di London. Ketika Corbyn memulai pidatonya soal hak asasi manusia, para demonstran berdiri di depan podium dengan membawa poster-poster yang menyerukan bantuan makanan segera lewat udara di Suriah. Tatchell mengkritik keras pemimpin oposisi Inggris itu, termasuk juga terhadap para aktifis gerakan anti-perang di Inggris yang dinilainya tidak cukup mampu menekan Rusia yang terus menerus mem-backup brutalisme diktator Suriah, yaitu Basyar Assad.

Pada saat para demonstran berdiri dengan tenang di depan Corbyn, Tatchell berteriak, “Apa yang sedang terjadi di Aleppo adalah Guernica di abad modern (Guernica adalah peristiwa bombardir dalam perang saudara di Spanyol 1937, red). Kita belum mendengar pemimpin Partai Buruh berbicara cukup keras menuntut Inggris untuk menjatuhkan bantuan (kemanusiaan) via udara kepada ribuan orang penduduk sipil yang terkepung yang berisiko menghadapi kematian.”

Selanjutnya, pantas diajukan pertanyaan kepada orang-orang kiri tersebut (Partai Buruh Inggris) dan gerakan-gerakan anti-perang: “Bagaimana bisa kalian mengklaim sebagai kampium  hak asasi manusia jika kalian masih tetap diam ketika Rusia mengerahkan jet-jet tempur untuk menjatuhkan ribuan ton bom, lalu kalian menentang upaya pemberian bantuan obat-obatan dan makanan lewat udara, dan kalian (juga) menentang usulan zona larangan terbang?”

Inisiatif dan Protes di Berbagai Belahan Dunia

Dalam beberapa hari ini terjadi demo/protes oleh elemen masyarakat di sejumlah negara seperti di Turki, Jerman, Bosnia, Amerika, Afrika Selatan, dan sejumlah tempat lainnya. Bahkan di Perancis juga terjadi aksi serupa. Mereka ingin menyampaikan aspirasi bahwa mereka bersama rakyat Suriah terutama yang sekarang sedang terkepung di Aleppo.  Merespon aksi dukungan masyarakat internasional tersebut, salah seorang komandan mujahidin Abu al-‘Abad menyatakan, “Kami dari Aleppo menyampaikan terima kasih kepada mereka semua yang mendukung kami dalam hati/niat mereka, dan yang sedang mencoba menekan pemerintah masing-masing dalam rangka mendukung rakyat kami”.

Kata Abdul Karim, kabar meluasnya protes disambut baik di Aleppo. Upaya Bilal Abdul Karim untuk tidak berdiam diri mengabarkan situasi aktual di Aleppo, termasuk sesi wawancara eksklusif yang bertepatan dengan Hari Hak Asasi Manusia layak diberi apresiasi. Dan orang-orang yang penuh semangat dan berani berdiri bersama mereka yang tertindas pantas mendapatkan penghargaan.

Sasaran Aksi Demonstrasi: Kedutaan Suriah, Rusia, Cina, dan Iran

Ia (Bilal) pun menyerukan seluruh aktivis perdamaian  di seluruh dunia untuk mendukung atau berdiri bersama rakyat Aleppo dan rakyat Suriah secara umum, dengan cara melakukan protes dan aksi demonstrasi di luar kantor kedutaan Suriah, Rusia, dan Cina, (termasuk Iran, red) serta menekan pemerintah masing-masing supaya mengambil tindakan & mendukung rakyat Aleppo.

“Barangkali Cina memang tidak terlibat secara langsung di lapangan medan konflik Suriah, tetapi negara komunis itu ikut terlibat menggagalkan upaya penerapan sanksi PBB dan inisiatif-inisiatif lain yang bermanfaat & berguna bagi rakyat Suriah. Seorang wartawan senior Inggris, Yvonne Ridley yang pernah menjadi tawanan Taliban lalu masuk Islam, setuju mendorong masyarakat internasional untuk mulai memboikot produk-produk & barang-barang yang berasal dari Cina. Ia menyerukan untuk terus menyuarakan protes dan menggalang upaya lokal maupun internasional dalam rangka membela rakyat di Aleppo, Idlib, dan di wilayah-wilayah lain di Suriah.

Moskow dan Washington Tidak Berhak Mewakili Rakyat Suriah

Jurnalis yang berbasis di New York, Bilal Abdul Karim, menegasikan perundingan damai antara Moskow dan Washington dengan mengatakan, “Siapa yang (berhak) berbicara atas nama rakyat Suriah? Jika rakyat Suriah tidak mau menerima gencatan senjata, apakah berarti kalian tidak mengerti akibat yang akan mereka terima jika Assad masih terus berkuasa?

Di Aleppo, mereka kelaparan, mereka hidup tanpa makanan dan air, dan setiap hari hidup dalam ketakutan akan ancaman bom-bom barrel, roket, dan bahkan serangan senjata kimia. Meskipun demikian, mereka tetap memilih untuk tinggal dan tidak akan meninggalkan wilayah yang dikontrol oposisi.”

Meskipun kemenangan Trump di Gedung Putih tidak menginspirasi apapun bagi terwujudnya sebuah solusi bagi keselamatan rakyat Suriah, orang-orang juga tidak ada yang antusias dengan Hillary Clinton. Salah satu mereka dianggap “buruk”, sementara satunya lagi “lebih buruk”.

Paradoks Abad 21: Inisiatif Masyarakat vs Lambannya Entitas Negara

Ketika sesi wawancara dengan Bilal Abdul Karim akan segera dilaksanakan, tersiar kabar tentang sebuah inisiatif dari masyarakat Turki untuk mengadakan aksi konvoi darat yang diprakarsai oleh Yayasan Bantuan Kemanusiaan (IHH). Direncanakan, konvoi akan start pada hari Rabu tanggal 14 Desember jam 11 siang dari Istanbul dengan peserta yang berasal dari berbagai propinsi di Turki, seperti: Sakarya, Ankara, Konya, Kayseri, dan Kahramanmaras. Sejumlah peserta dari luar negeri juga dilaporkan akan ikut berpartisipasi. IHH menjelaskan, selama misi perjalanan mereka ke Suriah, konvoi akan mendorong aksi protes warga di wilayah masing-masing dalam rangka menentang bombardir & kejahatan di Aleppo.

Sudah sangat jelas pesan dari aksi konvoi berskala internasional tersebut, termasuk berbagai demonstrasi yang secara masif terjadi di berbagai belahan dunia dalam rangka menentang atas apa yang sedang menimpa sesama umat manusia di Aleppo? Inisiatif-insiatif itu muncul dari lapisan masyarakat luas melalui media-media sosial untuk menyampaikan pesan bahwa mereka ingin pemerintah mereka mengambil tindakan sekarang juga untuk menyelamatkan orang-orang yang tidak berdosa di Suriah dari resiko kematian dan kehancuran yang lebih buruk lagi. Pertanyaannya adalah, sebagai entitas negara yang memiliki sumber daya dan kekuasaan sedemikian besar, mengapa pemerintahan negara-negara itu: negara-negara Muslim, dunia Arab dan Turki, dan terutama AS dan Eropa, begitu lamban bertindak?

Incoming search terms:

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY