negaraislam

 NEGARAISLAM.COM– Terkadang kita melihat ada seseorang yang berniat baik dengan menasihati saudaranya. Namun. tidak sedikit niat baik itu justru berbuah dosa karena dilakukan tidak pada tempatnya. Niat yang baik dengan memberi nasihat berubah menjadi ghibah jika dilakukan di muka umum.

Mengenai ghibah terhadap seorang muslim, Imam An-Nawawi mengatakan, “Haram menggunjing pakaiannya, hewan tunggangannya, makanannya, dan sebagainya.” Yakni, kita tidak boleh mengatakan, “Tengoklah Fulan, ia memakai baju yang jahitannya sangat jelek.”

Hal seperti ini dianggap sebagai ghibah menurut para ulama dan dianggap sebagai perbuatan haram. Bahkan, para ulama menyatakan keharaman ghibah atas golongan Yahudi dan Nasrani yang tinggal dalam masyarakat Muslim sebagai kaum dzimmi. Kecuali jika memang orang tersebut menampakkan kefasikan dan kemaksiatannya, serta dikhawatirkan orang banyak akan terpengaruh oleh perbuatan orang tersebut.

Jadi, ghibah itu haram dalam segala bentuknya. Adapun jika kita menasihati, hendaklah kita sampaikan kepadanya ketika sendirian, hanya antara kita dan dia, bukan di tengah orang ramai. Jika kita menasihati seseorang di hadapan orang, berarti kitatelah merendahkannya. Jika kita menasihatinya di luar pengetahuan orang, berarti kita telah menghias (memperbagus)nya.

Amirul Mukminin Umar bin Khattab pernah mengatakan, “Semoga Allah merahmati seseorang yang mau menunjukkan aib-aibku.”

Jika kita melakukannya, kita mendapat pahala nasihat di dalamnya. Nasihat kepada para pemimpin kaum muslimin dan kaum awamnya. Adapun jika dengan alasan memberi nasihat, kita membolehkan diri sendiri untuk menggunjing orang sekehendak kita, mencela orang, menulis tentang seseorang, menyerang seseorang dan menyebarkan pamflet-pamflet berisi tuduhan negatif; hal ini sama sekali bukan dari ajaran Islam.

Nasihat itu disampaikan jika memang dapat memberikan manfaat. Jika kita tidak lagi menaruh harapan bahwa nasihat akan diterima, lebih baik tidak menasihatinya. Tidak secara berduaan ataupun di hadapan orang.

Sebab, memberi nasihat hanya wajib dikerjakan terhadap orang-orang yang memang kita anggap mau mengambil nasihat. Yang jelas, antara kita dan dia boleh jadi mendapatkan pahala karenanya. Menggunjing seorang muslim adalah seperti memakan daging orang yang telah mati. Seperti memakan daging saudaramu yang telah mati. Sekali lagi, sebagaimana Ibnu Katsir jelaskan, “Sebagaimana kalian benci makan daging saudara kalian yang telah mati, maka kalian harus juga membenci hal yang sama menurut pandangan syar’i. Sedangkan menggunjing seorang muslim jauh lebih besar keharamannya di sisi Allah dari itu.”

Jangan Menyia-nyiakan Pahalamu

Jangan sia-siakan pahala yang besar itu dengan lisan kita. Jangan meremehkan dan menyepelekan masalah ghibah, dan menganggap kecil dosa-dosanya. Rasulullah bersabda:

“Ketika aku dinaikkan (ke Sidratul Muntaha), aku melihat kaum yang kuku-kukunya dari tembaga. Mereka menggaruk-garuk wajah serta dada mereka. Lalu saya bertanya kepada Jibril, ‘Siapa mereka?’ Jibril menjawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia (menggunjing mereka) dan mencela kehormatan orang’.” (HR Abu Dawud. Lihat At-Targhib wa Tarhib: III/510)

Al ‘Irdhu (kehormatan), sebagaimana telah saya katakan, di dalam bahasa Arab bukan hanya berarti kehormatan dari dua aurat. Namun, al- ‘irdhu mempunyai makna sesuatu yang dipuji atau dicela. Jika seseorang memuji kita, dikatakan bahwa ia menyanjung kehormatan kita. Jika ia mencela kita, dikatakan ia telah menyinggung kehormatan kita. Oleh karena itu, berhentilah pada batas-batas yang tidak boleh kita langgar. Jangan sampai setan membujuk kita untuk melakukan ghibah dengan alasan untuk kemaslahatan; untuk kepentingan amal islami; atau dengan alasan untuk maslahat jihad.

Kita harus menerangkan kepada manusia bahwa perkara itu bukan urusan kita, tapi menjadi hak para pemegang urusan (ulil amri). Jika kita memang benar, kembalikanlah perkara tersebut kepada yang berhak mengurusnya.

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا


83. Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu). (AnNisa’: 83)

Keadilan

Berapa banyak orang yang telah melukai jihad ini. Berapa banyak ucapan yang mencegah berjuta-juta dirham atau dinar untuk jihad ini. Satu kata yang keluar dari mulut seseorang, mencela salah seorang tokoh pimpinan yang masyhur, akan dapat menumbuhkan pesimisme di dalam hati orang-orang yang baik, serta mencegah kebajikan dan derma dari tangan orang-orang dermawan.

Banyak dan banyak sudah terjadi. Satu kalimat yang keluar kadang membahayakan umat secara keseluruhan. Khususnya, kita ini sedang beramal dalam perkara yang telah melekat di dalam hati umat Islam, menjadi pusat perhatian mereka, dan menjadi gantungan harapan mereka. Kita datang untuk menghancurkan harapan ini, maka kita berdosa. Sebab, kita mencegah kebaikan dari mereka. Kita akan mempertanggungjawabkan hal tersebut kelak di hadapan Rabbul ‘Alamin.

Sebelumnya syaikh Abdullah Azzam pernah  menyampaikan, “Jika kamu tinggal di rumah bersama ibu dan bapakmu, dan kamu mengetahui aib-aib mereka yang banyaknya hampir memenuhi berjilid-jilid buku. Mengapa kamu mendiamkan aib-aib ibu bapakmu, jika kamu memang mau mengambil metode orang-orang Barat? Apakah ibu dan bapakmu lebih mulia dan lebih berharga dari jihad yang untuk menyelamatkan umat dan menjadi mercusuar bagi orang-orang yang berjalan dalam kegelapan malam di atas jalan Din ini?

Mengapa kamu tidak berani membicarakan tentang penguasa di negerimu, misalnya?

Jika kamu ikut dalam tubuh jamaah atau lembaga dakwah atau suatu aliran pemikiran, mengapa kamu tidak membicarakan tentang jamaah yang kamu ikuti?

Kamu menerapkan metode penyampaian fakta secara obyektif versi Barat terhadap suatu kaum, namun kamu tidak menerapkannya pada sekelompok orang yang jumlahnya tidak lebih dari seratus orang, lebih atau kurang. Mengapa kamu tidak menggunakan metode yang sama atas dirimu sebagaimana kamu menggunakannya terhadap yang lain?

Bicaralah tentang ibumu dan ayahmu dengan metode yang sama, jika kamu hendak mengikuti cara J.J. Rouseau yang menulis—pengakuannya dalam buku hariannya; nama-nama lelaki yang pernah menipu ibunya dan berzina dengannya. Jika kamu menerapkan metode Barat dalam menyampaikan fakta secara obyektif terhadap orang lain maka terapkan pula metode tersebut terhadap dirimu sendiri, keluargamu, kelompokmu, jamaahmu, tanzhimmu, dan pemerintahmu. Terhadap mereka semua.

Jika kamu menerapkan metode tersebut hanya kepada mujahidin Afghan, karena mereka bangsa yang miskin, namun tidak menerapkannya terhadap pemerintah di negeri tempat kelahiranmu, maka kamu termasuk golongan orang-orang yang curang.

Surat Al-Muthaffifin Ayat 1
Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang
Surat Al-Muthaffifin Ayat 2
(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,
Surat Al-Muthaffifin Ayat 3
dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.

(Al-Muthaffifin: 1-3)

Jagalah pahala  dan jangan sampai disia-siakan. Pahala dari amalan kita amatlah besar dalam timbangan Ar-Rahman. Allah akan membuka pintu-pintu Jannah bagi kita dengan beberapa syarat.

Yang pertama adalah menjaga lisan. Jagalah lisanmu dan jaga pula amal kebaikanmu yang timbangannya sama dengan gunung, bahkan lebih Insya Allah.

Sesungguhnya seorang muslim itu di sisi Allah itu sangat mulia:

“ … tiada seorang muslim yang melanggar kehormatan saudaranya muslim, melainkan Allah membiarkannya di saat ia berharap akan pertolongan. Tiada seorang muslim yang menolong saudaranya muslim di saat kehormatannya dilanggar dan harga dirinya dihina melainkan Allah akan menolongnya di saat ia berharap akan pertolongan …”

Wallahu a’lam bi shawab.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY