Saturday, January 21, 2017
Dinasti Al-asad dan kekejamannya

Dinasti Al-asad dan kekejamannya

Latar Tragedi Kemanusiaan Suriah: Syiah Minoritas Berkuasa! Indonesia, belajarlah…

Latar Tragedi Kemanusiaan Suriah: Syiah Minoritas Berkuasa

Jangan lupa, Bapaknya Bashar Assad (Hafez Assad) pernah menunjukkan pada dunia kekejamannya dahulu. Dia membunuh 45 ribu Sunni di kota Hama, Suriah, pada 1982.

Jenazah mereka tidak boleh dikubur. Siapa yang mendekat dibunuh. Wartawan sekaliber Robert Fisk saja sampai sulit mendefenisikan kekejaman ini.

[1982 Hama massacre. The Hama massacre (Arabic: مجزرة حماة‎‎) occurred in February 1982, when the Syrian Arab Army and the Defense Companies, under the orders of the country’s president Hafez al-Assad, besieged the town of Hama for 27 days in order to quell an uprising by the Muslim Brotherhood against al-Assad’s government. The massacre, carried out by the Syrian Army under commanding General Rifaat al-Assad, effectively ended the campaign begun in 1976 by Sunni Muslim groups, including the Muslim Brotherhood, against the government.

Hama pusat gerakan Ikhwanul Muslimin.

Hafez Assad adalah pemimpin hasil mengkudeta yang berasal dari minoritas syiah alawi.

Bashar Assad (putra Hafez Assad) melakukan genoside kedua di Hama pada 2013.

Bashar juga membunuh warganya dengan brutal menggunakan zat kimia. Baca Ghouta chemical attack! (wikipedia)

Pegang data ini sebelum anda bilang kalau saat ini yang terjadi adalah murni pemberontakan pada pemerintah yang sah!

Ini kerangka utama konflik Suriah.

Minoritas syiah menguasai, tak memberikan kesempatan mayoritas sunni terlibat dalam kegiatan politik kenegaraan. Kehidupan politik dikekang.

Dimulai karena kemarahan masyarakat kota Daraa akan penangkapan dan penyiksaan 15 anak-anak oleh pihak berwajib….berawal dari pengecatan slogan anti pemerintah oleh anak-anak itu…konflik Siria membesar dan menjatuhkan korban satu demi satu…yang terbanyak, anak-anak.

Siria agak terlambat ‘bergabung’ dengan Arab Spring (Musim Semi Arab/Reformasi). Negeri ini mulai bergolak pada Maret 2011. Demonstran awalnya tidak menuntut pemunduran diri Presiden Bashar Assad. Mereka hanya meminta kebebasan dan kesempatan berpartisipasi politik yang lebih.  Akan tetapi, pihak keamanan merespon demo itu dengan brutal, menembakkan peluru api, menyemburkan gas air mata pada massa, membunuh beberapa orang demosntran. Hampir setiap Jumat siang, demo muncul di kota-kota besar seperti Homs, Hama dan Latakia. Setiap demo itu dihadang keras pihak keamanan.

Kekerasan masuk babak baru di ujung 2011 ketika konflik mulai melibatkan militer. “Saat itu rata-rata 40 orang terbunuh tiap hari. Angka itu terus meningkat, apalagi sejak Liga Arab mengirimkan tim monitor mereka,” jelas Robert M. Damin, ahli pada Lembaga Hubungan Luar Negeri Timur Tengah, seperti yang ditulis Huffington Post.

Di tengah konflik yang hampir dua tahun ini, anak-anak menjadi korban yang sering terabaikan. Anak kecil sering hilang; yang lebih besar kadang menyelinap keluar kamp pengungsian. Harriet Sherwood dari Guardian menghabiskan waktu mencari Musa (15) yang tinggal di kamp sendirian. Dia satu dari lebih 200 anak tanpa orangtua/wali yang terdaftar di kamp pengungsian Za’atari, utara Jordan.

Musa bertutur pada Lembaga Save the Children. Dia ditangkap militer dan dipenjara selama 22 hari. “Saya disiksa dan saya melihat anak-anak meninggal di sana. Kaki, dada dan tubuh bagian belakang saya luka. Ada ratusan kami dalam penjara itu. Yang terkecil berusia 10 atau 9 tahun. Mereka ditangkap saat demo. Saya dipukuli tiap hari. Mereka menggunakan setrum listrik juga.” Penyiksanya mencari informasi tentang FSA. “Tapi, saya tidak pernah memberitahu mereka,”ujarnya. Dia menceritakan mayat-mayat dalam selnya. “Mayat itu sudah lama di sana. Sudah busuk. Berulat.”

Hassan, remaja 14 tahun asal Zaynab, dekat Damascus, bersama delapan anggota keluarganya tinggal di rumah keluarga jauh mereka di Mafraq, beberapa pekan setelah melarikan diri dari Siria, dari apa yang dia sebut sebagai, ‘pembunuhan massal di kota kami’.

Menurut kisah Hassan, helikopter Siria menembakkan roket pada prosesi penguburan jenasah pejuang FSA. “Ada sekitar lima ribu orang di sana. Saya di pinggir lokasi. Pengantar jenasah lumayan ribut, tapi saat roket menghantam, tidak ada suara,” ungkap Hassan. “Mayat di mana-mana. Potongan tubuh. Orang mencari kerabat mereka. Takut karena helikopter masih di atas. Saya melihat kepala tak jauh dari saya. Tangan dan kaki yang terpisah dari tubuh mereka. Darah di mana-mana. Setiap akan tidur, saya selalu dihantui hari itu.”

Paman dan sepupu Hassan juga terbunuh. “Kami mnemukan tubuh mereka di masjid.” Dia menambahkan,”Setiap orang, tua sampai muda membenci Bashar.”

Kamp pengungsian Za’atari berjuang mengasuh anak-anak yang lebih dari dua puluh ribu itu. Sebagian mereka tersiksa dengan ingatan terbunuhnya kerabat, teman dan tetangga. Sebagian mendengar suara muntahan senapan dalam kepala mereka. Banyak di antara mereka yang menyaksikan rumah dan kota mereka hancur. Sebagian kecil sempat ditahan dan disiksa. Sebagian masih dengan luka yang masih merah. Hampir semua memiliki goresan psikologis.

“Anak-anak membayar harga paling mahal dari konflik ini. Kami melihat perilaku yang bermasalah, sindrom paska-trauma,”jelas Nadine Haddad dari Save the Children yang meluncurkan kampanye peduli anak wilayah konflik dan derita mereka.

Liga Arab mencoba menjadi penengah antara rejim Assad dan FSA. Liga Arab meminta penghentian kekerasan dari dua belah pihak. Usaha Liga Arab gagal karena rejim Assad meningkatkan eskalasi militer mereka di depan utusan Liga Arab sehingga angka korban terbunuh bertambah drastic.

Dewan Keamanan (DK) PBB mengusulkan penyelesain konflik dengan resolusi yang menuntut mundurnya Assad. Resolusi disetujui oleh 13 anggota DK PBB, tapi diveto Cina dan Rusia. Moskow menjadi pendukung utama Siria secara diplomatik dan logistik. Kremlin mengirimkan senjata ke Siria, dengan alas an Siria memerlukannya untuk mengamankan negaranya.

Akses media internasional sangat terbatas di Siria. Sambungan internet minim. Wartawan local terjepit di antara dua kekuatan yang memaksakan pemuatan narasi mereka . Belasan wartawan meninggal dalam konflik Siria.

“Sepanjang Bashar Assad masih berkuasa, masa depan Siria akan penuh darah,” prediksi mantan diplomat Amerika, Dennis Ross pada Reuters. Korban terbanyaknya adalah anak.

Adapun pihak asing masuk, itu setelah yang di atas. Dan asing membawa misi masing-masing. Iran karena ideologi syiahnya, Rusia Cina karena minyak dan persekutuan mereka. Amerika dan sekutu karena pengamanan tambang minyaknya.

Dan Turki, oh Turki: Turkey will never abandon people of Aleppo, at whatever cost. We will do everything we can to save lives, even if only one live. (Gemuruh dada membaca ini).

Dan kita, karena kita manusia dan terikat akidah dengan korban di sana. Innamal mukminu ikhwah….Muslim itu bersaudara. Dia tidak boleh meninggalkan mereka…..

Indonesia, belajarlah.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

free web stats