negaraislam

NEGARAISLAM.COM– Bana Al-Abed adalah seorang gadis 7 tahun yang tinggal di Aleppo Timur. Melalui pesan berbahasa Inggris yang tak lancar dan apa adanya, ia telah menjadi representasi dari penderitaan yang setiap hari dihadapi bocah-bocah di Suriah.

Dia juga merupakan seorang figur terkenal di Twitter. Dalam tiga bulan terakhir, akun Bana Al-Abed telah aktif menghimpun 284.000 pengikut, termasuk JK Rowling, dan telah menulis beberapa laporan berita dan lebih dari 580 tweet. Bana juga mem-posting beberapa video di Periscope yang menunjukkan kehidupan sehari-hari, serta pemboman yang terjadi di Aleppo Timur.

Kemunculan Bana membuat orang bertanya-tanya tentang eksistensi Bana Al-Abed, akun media sosialnya dan laporan peristiwa yang ia buat. Khususnya di Indonesia, aktivis Syiah, Dina Sulaeman juga mempertanyakan sosok keberadaan Bana Al-Abed dan meragukan ceritanya.   

Laporan ini akan memeriksa media yang ia gunakan untuk mem-posting laporan Bana Al-Abed, konteks postingannya, dan akurasi laporannnya. Karena ada kemungkinan akun twitter Bana ini bisa saja dihapus, semua rangkaian tweet ini diambil dari screenshot dari halaman cache.

Keluarga Bana

Keluarga Bana terdiri dari lima orang anggota keluarga: Ayahnya, Ghassan Al-Abed, dikabarkan bekerja di bagian hukum dewan setempat. Tugasnya mencatat angka kelahiran dan kematian di kawasan Aleppo Timur. Sang ayah, saat ini menggambarkan dirinya sebagai seorang “aktivis penentang terorisme dan ISIS” pada halaman Twitternya. Ghassan juga seorang penyair, ia pernah mem-posting puisi meratapi kehancuran Aleppo pada laman Facebooknya sejak Oktober 2015.

Ibunya, Fatimah, adalah guru bahasa Inggris yang juga telah mempelajari hukum, politik dan jurnalisme secara signifikan. Bana juga memiliki dua saudara kecil: Nur, yang baru berusia 3 tahun dan Muhammad, yang sudah berumur 5 tahun.

image-1-bana-kredit-french-kru

Gambar 1: Bana

image-2-Fatemah-kredit-french-kru

Gambar 2: ibu Bana, Fatimah

image-3-Banas-ayah-dan-saudara-kredit-untuk-Perancis-kru

Gambar 3: ayah Bana dan dua saudara

Kemunculan di Media 

Bana dan akun Twitter-nya langsung cepat melesat setelah dibuat pada tanggal 24 September 2016. Pada bulan September, sekitar 29 media melaporkan berita dari akun Twitter-nya. Termasuk Mail online, Telegraph dan Quartz yang mengaku telah berbicara dengan ibu Bana, Fatimah.

Meskipun pada awalnya cukup mengejutkan bahwa @AlabedBana menjadi terkenal begitu cepat, kemampuan Twitter untuk menyebarkan informasi secara efisien dan pemantauan media terhadap Aleppo membuat Bana menjadi populer secara luar biasa.

Pesan sederhana menyuarakan ketakutan dan harapan seorang anak kecil yang berbicara dalam bahasa Inggris yang terbata-bata dari zona depan pertempuran, membuat Bana Al-Abed sangat mudah untuk melaporkan. Para pembaca pun mudah menangkap gambaran situasi yang disampaikan oleh Bana.

Setelah mulai muncul di media, @AlabedBana menjadi subyek dari banyak laporan berita yang berbeda. Mulai dari deskripsi sederhana untuk film dokumenter maupun wawancara live via Skype.Hal ini menarik minat dari semua sisi spektrum politik, dan mengakibatkan @AlabedBana menjadi tokoh yang terpolarisasi, antara kubu Presiden Bashar Assad, [email protected] serta akunnya dengan julukan “teroris atau pendukung mereka“.

Pada titik ini, Bana sudah bukan lagi seorang gadis yang sederhana, dan sebaliknya, dengan keberadaannya ia menjadi seorang aktivis politik dan memberikan ancaman terhadap reputasi rezim Assad di Suriah.

Salah satu yang penting dan paling mudah dibantah ialah tuduhan tentang akun Bana bahwa ia tidak mem-posting atau ber-tweeting ria dari kawasan Timur Aleppo, melainkan dari Turki atau di tempat lain di Suriah.

Namun jika kita memeriksa video yang diposting Bana di Periscope dan Twitter dari atap rumahnya, termasuk rekaman di mana dia terlihat jelas keberadaannya, kita dapat mengecek geolokasi mereka ada di posisi 36 ° 12’16 “N 37 ° 11’09” E .

Dari situ dapat kita lihat bahwa Bana sedang menge-tweet dari blok yang dikenal berada di dalam kawasan yang dikendalikan pejuang di Aleppo Timur. Lokasi ini tampaknya, dan digambarkan oleh Fatimah pada video periskop mereka, sebagai rumah mereka. Semua video atau foto yang menunjukkan Bana, ibunya, atau ayahnya di luar apartemen yang dilacak dari geolokasi oleh kami menunjukkan mereka berada di dekat apartemennya.

Gambar 4: Geolocation rumah Bana ini menggunakan masih dari video Periscope

Gambar 5: Geolocation rumah Bana dari video Periscope-nya.

Gambar 5: Geolocation Menampilkan Bana di East Aleppo, pada 36 ° 12'18 "N 37 ° 10'58" E

Gambar 6: Geolocation menampilkan Bana di kawasan East Aleppo, pada koordinat 36 ° 12’18 “N 37 ° 10’58” E

Akun Bana juga pernah mem-posting foto lain, seperti foto  yang memperlihatkan anak-anak terbunuh dalam serangan udara pada sekolah di Idlib. Namun foto tersebut jelas diposting untuk meningkatkan kesadaran peristiwa lain di wilayah Suriah atau Aleppo, bukan deskripsi langsung dari situasinya.

Manajemen Akun

Beberapa orang mempertanyakan bagaimana seorang gadis 7 tahun dengan bahasa Inggris yang tidak terlalu lancar dapat menjalankan kampanye media sosial yang sukses. Jawaban yang sederhana adalah bukan Bana yang melakukannya. Akun Twitter-nya jelas menyatakan bahwa itu “dikelola oleh Fatimah, sang ibu”. Sebagaimana telah kita lihat, Fatimah adalah seorang guru, bisa berbahasa Inggris, telah mempelajari jurnalisme dan tampaknya mahir menggunakan media sosial. Hal ini dengan mudah menjelaskan kecanggihan kehadiran Bana di media sosial.

Gambar 6: "Akun yang dikelola oleh ibu"

Gambar 7: “Akun yang dikelola oleh ibu”

Pada 8 Desember 2016, akun tersebut telah mem-posting 580 tweet dan dikaitkan dengan beberapa orang yang berbeda: 121 ditandatangani oleh “Bana” sendiri, 181 twit ditandatangani oleh “Fatemah” atau “ibu Bana”, 1 cuitan ditandatangani “Muhamad”, dan 124 cuitan lainnya tanpa atribusi.

Ada juga sejumlah besar retweets, terhitung sejumlah 153 postingan. Oleh karena itu, cuitan langsung yang dikaitkan dengan Bana jumlahnya sangat sedikit, dengan mayoritas sebenarnya terlihat dilakukan oleh Fatimah.

Dua gaya penuturan mereka dapat terasa dan dipahami berbeda satu sama lain. Cuitan yang dikaitkan dengan Bana ditulis lebih sederhana. Cuitan-cuitan bagus tanpa atribut terlihat diposting oleh Fatimah ketimbang Bana, sementara cuitan sederhana, namun dengan tata bahasa Inggris yang benar nampaknya ditulis oleh Bana, tapi setidaknya telah diedit atau ditulis ulang oleh Fatimah.

Gambar 8: Contoh tweet ditandatangani oleh Bana

Gambar 8: Contoh tweet yang ditandatangani oleh Bana

Gambar 9: Contoh tweet ditandatangani oleh Fatemah

Gambar 9: Contoh tweet ditandatangani oleh Fatimah

Gambar 10: Contoh tweet tanpa atribut dari 28/11/16

Gambar 10: Contoh tweet tanpa atribusi pada 28/11/16

Hal ini menjelaskan pada kita dari akun ini bahwa ini adalah segala sesuatu tentang Bana, bukannya dijalankan oleh dia. Ibunya mengontrol dan mengelola akun tersebut, dan ini tidak mengherankan, mengingat Bana baru berusia 7 tahun. Hal ini cukup jelas dinyatakan dalam bio akun Twitter-nya.

Akses listrik dan internet

Sebagian orang lainnya ada juga yang usil bertanya bagaimana Bana dan Fatimah bisa memiliki akses ke sambungan listrik dan layanan internet di kota yang telah rusak berat akibat perang. Munculnya keraguan atas kemampuan akun media sosial Bana untuk mengirim begitu banyak tweets dari kota yang telah porak-poranda tersebut boleh-boleh saja. Pada 4 Oktober dia menge-tweet sebanyak 18 kali dan me-retweet 111 kali. Namun, setelah kami memeriksa wilayah Timur Aleppo dan isi laporannya itu sendiri kita dapat melihat bahwa hal ini sepenuhnya kredibel.

Bana dan keluarganya memiliki akses ke listrik melalui panel surya yang dipasang di atap mereka.Panel tersebut mengisi sejumlah baterai aki mobil yang kemudian digunakan untuk mengisi ponsel.Infrastruktur terlihat jelas dalam tayangan video Periscope Bana dan Fatimah juga muncul dalam laporan Sept à Huit , yang membuat sebuah film dokumenter tentang Bana pada akhir November tahun ini. Alat-alat tersebut juga disinggung dalam laporan BBC  akhir September ini:

Gambar 10: Baterai dan panel surya

Gambar 11: Baterai dan panel surya di rumah Bana.

Bagaimana tepatnya Bana dan Fatimah terhubung ke internet masih belum jelas, namun akun tersebut mengklaim bahwa mereka menggunakan “sinyal 3G yang lemah dan layanan WiFi tersisa”:

Salah satu alternatifnya adalah bahwa Fatimah memiliki akses ke telepon satelit, yang akan menjelaskan akses cukup ke internet. Namun, akun Bana tidak pernah menyebutkan telepon satelit, juga tidak satu pun telepon satei itu pernah terlihat pada setiap media yang dikaitkan dengan akun tersebut.

Mempertimbangkan efek dari 5 tahun perang pada infrastruktur Suriah, cukup mengejutkan untuk menemukan fakta bahwa Aleppo masih memiliki sinyal telepon selular dan beberapa layanan WiFi.Sinyal mobile cukup mudah dikonfirmasi oleh teks-teks yang dikirim ke warga Aleppo Timur oleh rezim Suriah.

Sementara itu, pejuang oposusu yang mengelola “proyek Hawa Net”, serta beberapa pekerja kemanusiaan, ternyata menyediakan akses internet ke Timur Aleppo menggunakan link microwave ke Turki. Link tersebut terhubung ke router WiFi yang bisa diakses warga sipil. Tweet ini dan aktivis Suriah Kenan Rahmani juga menjelaskan proses mengakses WiFi lokal yang bersumber dari perusahaan dengan akses ke telepon satelit secara lebih rinci. Sisa peninggalan layanan ini akan menjelaskan “layanan WiFi tersisa” yang disebukan oleh ibu Bana.

Untuk mengakses layanan 3G pun masih memungkinkan jika berada di salah satu daerah dekat kawasan yang dikendalikan pemerintah. Tentu saja masih ada akses internet di wilayah Aleppo Barata, seperti yang ditunjukkan artikel ini oleh Dyn Research. Oleh karena itu, masih ada beberapa cara untuk Bana dan Fatemah bisa mendapatkan akses ke internet, meskipun mungkin tidak melalui telepon satelit.

Kritik dan Serangan dari troll

Setelah melihat-lihat akun @AlabedBana kita sesekali akan melihat tweet yang tampaknya keluar karakter akun yang dijalankan  anak kecil dan muncul untuk menghasut kekerasan, termasuk memulai Perang Dunia ketiga.

Gambar 12.1 - Tweet (sejak dihapus) oleh @AlabedBana

Gambar 14 – Twit @AlabedBana

 

Meskipun tweets ini akan terdengar absurd jika dikaitkan dengan seorang anak berusia 7 tahun, namun hal ini harus dipahami sebagai ledakan dari seseorang, hampir pasti itu adalah Fatimah, yang saat ini terjebak dengan keluarga muda di sebuah kota yang mengalami pertempuran konstan. Mereka menghadapi kematian pada setiap hari.

Meskipun konten mereka dinilai kurang baik, dan dikritik karena menghubungkan pernyataan politik yang sangat kuat untuk bocah berusia 7 tahun, namun cuitan  itu masih sepenuhnya konsisten dengan konteks sekitar akun ini. Moralitas pencampuran jenis konten dengan pesan dari Bana adalah sesuatu yang harus diputuskan oleh para pembaca untuk diri mereka sendiri.

Akun Bana juga telah mengalami serangan troll berkelanjutan dari pihak-pihak yang berusaha merongrong dan mendiskreditkan pesannya. Mereka kerap berkomentar kasar pada halaman Twitter-nya dengan menggunakan akun palsu yang dibuat untuk mendiskreditkan Bana dan Fatimah.

Gambar 13: Akun Fatemah Palsu

Gambar 15: Akun palsu Fatimah

Gambar 14: Contoh tweet kasar

Gambar 16: Contoh tweet kasar yang menyerang Bana

Kritikan terhadap akun media sosial Bana ini penuh dengan kesalahpahaman yang disengaja, kesalahan informasi, dan kurangnya bukti. Misalnya, tuduhan bahwa Ghassan Alabed mungkin bekerja untuk pengadilan Syariah mujahidin di Suriah benar-benar tanpa dasar bukti.

Kita telah melihat bagaimana akun @AlabedBana jelas menyatakan itu dikelola oleh ibunya, sebuah fakta yang tampaknya telah sengaja diabaikan oleh banyak komentator. Sebuah tulisan populer berjudul “Syria Child Exploitation: Who is Bana From Aleppo?” dari akun yang telah diposting oleh kritikus dan haters Bana adalah contoh utama:

Gambar 15: Ekstrak dari populer "membongkar" dari Bana

Gambar 17: Contoh kritikan terhadap akun Bana

Artikel itu sengaja mengabaikan fakta-fakta yang jelas, juga tidak benar secara faktual karena beberapa hal, seperti menyebut Bana menge-tweet dari Gazientep, Turki. Atau pernyataan menggelikan seperti: bukan Rusia maupun rezim Suriah yang sedang melakukan serangan udara di Aleppo Timur. 

Gambar 16: Ekstrak dari populer "membongkar" dari Bana

Gambar 18: Contoh kritikan terhadap akun Bana. Mereka menuding dengan sebutan ‘Bana Project’.

Artikel ini juga memfitnah bahwa akun Bana sebenarnya dijalankan oleh Mr Alhamdo, mengutip video singkat yang diposting Bana dan dia bersama-sama. Juga karen penggunaan gaya yang serupa dari pesan berbahasa Inggris yang ditulis untuk Bana dan Fatimah. Mengingat bahwa Fatimah adalah mahasiswa di lembaga Mr Alhamdo dan juga pembicara asing, kesamaan itu tidak terlalu mengejutkan.

Namun, gaya mereka sebenarnya sangat berbeda: Fatemah teliti menggunakan huruf kapital di tempat yang tepat, tanda baca yang benar, dan jarak yang benar. Segala sesuatu yang dilupakan oleh Mr Alhamdo.

Sebuah tweet dari @Mr_Alhamdo

Gambar 19: Sebuah tweet dari @ Mr.Alhamdo

Gambar 17: Tembolok Tweet oleh @AlabedBana

Gambar 19.1: Tweet oleh @AlabedBana

Tweet dari Mr.Alhamdo

Gambar 20: Sebuah cuitan dari Mr.Alhamdo

Gambar 18: Tembolok Tweet oleh @AlabedBana

Gambar 20.1: Tampilan Tweet oleh @AlabedBana

Kecuali Anda seorang misoginis yang tidak percaya bahwa perempuan dapat menggunakan teknologi seperti Twitter, gagasan bahwa Mr Alhamdo untuk meng-upload tweet dan menjalankan akun Bana sangatlah tidak masuk akal.

Ada prasangka yang sama yang mengklaim bahwa akun @AlabedBana dijalankan dari Barat. Itu sama saja menganggap warga Suriah tidak mampu menjalankan akun Twitter mereka sendiri.

Dokumenter yang dibuat oleh Sept à Huit jelas menunjukkan Fatimah mengambil video dari Bana dan langsung meng-uploadnya. Mengingat latar belakang Fatimah sebagai guru bahasa Inggris, serta studinya dalam politik dan jurnalisme, tampaknya tidak mungkin dia akan membutuhkan banyak bantuan untuk menyiapkan akun Bana ini.

Yang ada harusnya Mr Alhamdo cenderung mengambil saran tentang bagaimana menggunakan media sosial dari Fatimah, karena akun Mr Alhamdo baru dibuat pada pertengahan Oktober 2016, setelah Fatimah mengatur akun Bana.

Upaya untuk mendiskreditkan Bana semakin menggelikan, termasuk dengan mengutip akun palsu yang menjelaskan bahwa Fatimah merupakan penganut Islam radikal. Bahkan ada upaya untuk menunjukkan bahwa akun Bana dijalankan dari Inggris dengan pemeriksaan kurang cermat dari meta-data dari rekeningnya. Dalam hal itu, meta-data yang diteliti sebenarnya menunjukkan lokasi orang yang melakukan pencarian, bukannya [email protected]

Tweet dari tuduhan "meta-data", sekarang dihapus.

Gambar 21: Tweet tuduhan “meta-data” palsu, tapi sekarang dihapus.

Gambar 21.1: Tweet dari @ Articlefifty50ShareShareShareShareShare

Gambar 21.1: Tweet dari @ Articlefifty50

Rumah Bana dibom

Bellingcat telah berupaya memverifikasi akun Bana ketika dia menjadi korban pengeboman pada malam tanggal 27 November. Dua gambar dipublikasikan oleh @AlabedBana menunjukkan puing-puing bberserakan di antara gang rumah Bana dan bangunan tetangga, serta beberapa kerusakan bom. Informasi ini juga mendorong penulis kenamaan JK Rowling untuk me-retweet salah satu video Bana ini, dan menaikkan profilnya lebih jauh:

Gambar 21.3: Tweet dari JK. Rowling

Gambar 21.3: Tweet dari JK Rowling

Sulit untuk sepenuhnya menilai kerusakan ini ketika foto yang ada tidak menunjukkan bagian dalam flat rumah Bana. Kendati demikian, dengan menggunakan foto dan citra satelit yang lebih dulu ada kita bisa melihat bahwa gambar itu memang diambil dari blok yang sama dari flat tersebut dalam videonya:

Gambar 21: Geolocation rumah dibom

Gambar 22: Geolocation dari rumah Bana, dengan foto kerusakan di sebelah kanan.

Pemeriksaan foto satelit sebelum dan sesudah tanggal pemboman jelas menunjukkan kerusakan yang signifikan, dan terlokalisir di flat tersebut. Melihat kerusakan lingkungan secara keseluruhan, kerusakan ini sangat spesifik dan muncul ditargetkan (Sumber – Digital Globe NextView License)

Kerusakan pada blok flat di mana Bana tinggal. Sebelah kiri gambar pada tanggal 27/11/16. Yang sebelah kanan diambil pada tanggal pada 7/12/16.

 Adapun Bana dan keluarganya setelah pengeboman, mereka melarikan diri meskipun terluka.

Pada tanggal 4 Desember, wilayah tempat Bana tinggal jatuh ke tangan Tentara rezim Suriah.Fatimah membuat satu postingan terakhir dan kemudian menghapus akunnya sementara.

Sejumlah aktivis telah menghadapi kekejaman rezim karena menyoroti pelanggaran HAM yang dilakukan oleh rezim Bashar Assad. Penghapusan akun dan menghindari daerah yang dikuasai rezim sangat rasional bagi keluarga yang telah menjadi begitu menonjol, apalagi jika Presiden Assad secara pribadi menyadari keberadaan mereka. Ini adalah tweet terakhir Fatimah:

Gambar 24: @ pasca akhir AlabedBana ini.

Gambar 24: Tweet dari @AlabedBana

Meskipun sejak saat itu akun Bana telah dipulihkan, jumlah tweet Bana telah menurun secara signifikan.Ayah Bana, Ghassan, berbicara dalam sebuah wawancara dengan Al Hayat menyatakan bahwa rumah mereka telah dibom dan mereka terpaksa mengungsi ke lokasi lain. Ghassan dan keluarganya khawatir dengan pasukan yang setia kepada Assad.

Gambar 25: Tweet dari @AlabedBana

Gambar 25: Tweet dari @AlabedBana

Saat wilayah kantong pejuang di Aleppo jatuh pada 14 Desember, Fatemah beralih ke Turki, negara yang membantu untuk mengatur gencatan senjata yang gagal pada malam sebelumnya, dan mungkin belum mengatur beberapa jenis gencatan senjata bagi warga sipil untuk keluar dari Aleppo Timur.

Gambar 26: Tweet dari Menteri Luar Negeri Turki untuk @AlabedBana

Gambar 26: Tweet dari Menteri Luar Negeri Turki untuk @AlabedBana

Kesimpulan

Dengan menggunakan informasi open source yang tersedia untuk kita, kita dapat menarik beberapa kesimpulan tentang Bana dan akun Twitter-nya:

  1. Bana Alabed adalah anak 7 tahun nyata yang tinggal di Aleppo Timur.
  2. Akun Twitter dan Periscope-nya telah secara konsisten mem-posting video dari lokasi yang sama di Aleppo Timur.
  3. Akun Twitter-nya dijalankan oleh ibunya, Fatimah.
  4. Fatimah memiliki pengalaman jurnalistik dan tampaknya sangat akrab dengan sosial-media.
  5. Bana dan ibunya mengalami serangan berkelanjutan dari para kritikus yang menggunakan kebohongan, kesalahan informasi dan kesalahpahaman yang disengaja untuk mendelegitimasi mereka.

Sejauh ini skenario yang paling mungkin adalah bahwa @AlabedBana adalah akun sosial media yang dijalankan oleh Fatimah yang bercerita tentang putrinya, di Aleppo Timur. Kisah Bana tidak mungkin dapat disampaikan tanpa memuat cerita penuh kengerian sehari-hari yang mempengaruhi penduduk kota itu. Hal itu tidak berarti [email protected] semacam plot Jihadis, atau akun propaganda untuk menyebarkan narasi palsu.

Karena peristiwa yang terjadi di Aleppo, akun sosial media apapun yang menceritakan kehidupan sehari-hari di sana menjadi politis. Akun tersebut telah mem-posting pesan politik yang lebih jelas, serta sesekali ledakan frustrasi sesekali.

Kendati demikian, untuk sebagian besar keberadaan akun tersebut mem-posting harapan sederhana dan ketakutan dari seorang gadis muda dan ibunya. Bom yang jatuh di timur Aleppo, anak-anak menderita akibat serangan itu, dan Bana sendiri merupakan mikrokosmos penderitaan yang ada di Suriah.

Dengan cara yang sama, fakta bahwa Fatimah, yang secara jelas dan terbuka menjalankan akun ini, terlihat mahir menggunakan media sosial. Ia kerap mem-posting dari sudut pandang tertentu tidak menjadikan ia layak didiskreditkan.

Aktifnya Fatimah dalam menginformasikan kepada dunia atas penderitaan orang-orang di Aleppo Timur sama sekali tidak mengurangi penderitaan itu. beberapa orang yang menuduh bahwa Fatemah telah mengeksploitasi Bana. Pernyataan politik dan pesan simplistis memang boleh dikritik. Namun, hal itu rasional bagi sebuah keluarga yang ingin meningkatkan kesadaran akan situasi yang mengerikan di Aleppo Timur.

Kecuali memang jika kita tidak memiliki rasa empati, jelas bahwa akun @AlabedBana merupakan upaya untuk menunjukkan kepada dunia tentang penderitaan orang-orang yang benar-benar ada dana dalam situasi nyata. Termasuk ketakutan mereka akan kematian dan ledakan frustrasi.

Terlepas dari afiliasi politik yang partisan, tidak mungkin menolak kebenaran bahwa ada seorang gadis kecil bernama Bana yang tengah menderita. Ia mengalami rasa takut berkepanjangan akan kematian karena konflik di Aleppo, sebuah perasaan yang sama dirasakan oleh banyak anak-anak lain di semua pihak dalam konflik ini.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY