NEGARAISLAM

NEGARAISLAM.COM– Kita dapati bahwa bencana yang timbul di tengah masyarakat kebanyakan disebabkan oleh prasangka dan tidak adanya pembuktian. Syaikh Abdulah Azzam rahimahullahsendiri mendapati bahwa  di Afghanistan kebanyakan musibah yang timbul, musababnya prasangka. Orang-orang tidak mau mengecek atau membuktikan apa yang mereka dengar dari orang lain. Padahal, Nabi bersabda:

“Cukuplah seorang dikatakan dusta, jika ia mengomongkan segala apa yang didengarnya.”(HR.Bukhari)

Banyak persoalan yang didengar di Peshawar oleh syaikh dan kemudian beliau membuktikannya. Dan hasilnya semua kabar yang bersliweran di Afghanistan ternyata jelas-jelas bohong. Setelah beberapa kali terbentur akibat omongan-omongan yang beredar di kota Peshawar dan juga mengingat situasi yang berkembang di sana, akhirnya syaikh berkata dalam hati, “Jika seseorang mengatakan kepada saya di Peshawar bahwa matahari terbit dari timur, saya akan berpikir dua kali, sampai saya bisa memercayai bahwa matahari memang terbit dari timur.”
Banyak berita yang tersebar di masyarakat dan kenyataannya adalah bohong. Berita-berita itu sebenarnya baru sebatas opini, namun orang-orang menerimanya sebagai suatu kenyataan. Kemudian mereka menyebarkannya satu sama lain. Akhirnya, berita itu menjadi satu opini publik. Berita tersebut lalu berpindah ke tempat lain dengan tambahan bumbu-bumbunya, sehingga jadilah kisah yang sangat panjang.

Apalagi dengan era kemajuan teknologi saat ini. Setiap person yang memegang alat komunikasi dapat mengakses semua kabar dan berita yang lalu lalang. Kalau kita tidak bisa mengendalikan diri dan waspada, bisa jadi kita mempercayai semua kabar dan menyebarkannya tanpa menelisik kebenarannya.

Terkadang keadaan masyarakat menjadi kacau balau karena ulah diri kita sendiri yang percaya begitu saja dengan kabar yang datang. Kemudian dengan mudahnya menyebar berita yang belum tentu kebenarannya.

Kisah dari Afghanistan

Syaikh Abdullah Azzam pernah bertanya kepada Ahmad Syah Mas’ud, “Apakah Anda mengerti bahwa ada isu beredar yang menyebutkan bahwa Anda adalah penyebab kegagalan dalam penaklukan kota Jalalabad? Karena Anda membiarkan jalan Salonja untuk tank-tank Rusia sehingga mereka masuk wilayah Afghan dan bisa sampai ke Jalalabad untuk melawan serbuan Mujahidin.”

Dia hanya mengatakan, “Subhanallah… Allah yang mengetahui bahwa sikap kami bukan seperti itu. Saya telah mengadakan kesepakatan dengan pimpinan, hendak menaklukkan kota Jalalabad dan tugas saya adalah memblokade jalan Salonja. Lalu saya katakan kepada mereka, ‘Tolong beritahu saya sebelum kalian memulai serangan, sehingga saya bisa mengatur persiapan.’ Karena satu front (perlawanan) Mujahidin saja tidak akan mampu memblokade jalan Salonja maka harus ada kerja sama antara front-front yang lain.

Untuk memblokade jalan umum yang menghubungkan kota Kabul dan Moskow, kelompok mujahidin mana pun memerlukan waktu lebih dari satu atau dua bulan, sesengit apa pun perlawanan mereka dan bagaimana pun kekuatannya.

Yang pertama kali harus dilakukan adalah mencegah konvoi tank dari Hirtan (jembatan yang ada di sungai Jihon di Mazar-e Syarif). Menghancurkan sebagian tank-tanknya dan merintangi laju konvoi tersebut selama dua minggu, kemudian pindah ke Saminjan. Di sana, kita melakukan penyerangan lagi dan merintangi jalannya selama dua minggu, serta menghancurkan sebagian tanknya. Kemudian ke Paghman.

Demikian terus, sampai bisa menghancurkan konvoi tank tersebut. Apabila kami juga diminta untuk memblokir jalan Salonja, yang panjangnya 3 km, menghadapi konvoi 300 tank, sementara dari atas pesawat-pesawat tempur musuh membombardir kami. Tank-tank tersebut memuntahkan segala jenis roket ke arah kami, juga rudal-rudal SCUD dari Kabul serta misil-misil diluncurkan untuk menghancurkan kota di sekitar jalan tersebut.

Bagaimana itu bisa terwujud? Apakah mereka (mujahidin yang ia pimpin) itu besi atau baja, sehingga mampu bertahan memblokir jalan tersebut selama musim panas?!”
Ia melanjutkan, “Ketika pertempuran terjadi di Jalalabad dan telah berlangsung selama sepuluh hari, mereka tidak memberitahu kami. Setelah menemui kenyataan bahwa mujahidin tidak mampu maju (menembus pertahanan musuh), mereka baru menghubungi kami dan meminta untuk memblokir jalan Salonja. Saya katakan, ‘Kami akan bekerja semampu kami.’

Di atas salju, bergeraklah pasukan kami untuk memblokir jalan Salonja. Kami bertahan selama 2 bulan. Dalam rentang waktu tersebut, kami telah kehilangan 38 personil. Mereka mati syahid. Ketika saya tahu bahwa pertempuran di Jalalabad mengalami kerugian, karena mujahidin tidak bisa maju dan tidak bisa mundur, maka saya memutuskan untuk menarik pasukan agar yang lain tidak ikut terbunuh.”

Persoalan Ahmad Syah Mas’ud ini hanyalah satu dari banyak masalah yang timbul karena kabar-kabar bohong yang menyebar. Syaikh sendiri membuktikannya dan akhirnya mendapati bahwa prasangka itu sedusta-dusta perkataan. Pada saat itulah syaikh Abdullah Azzam secara langsung memahami makna firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa berita, maka periksalah (dahulu) dengan teliti…” (Al Hujurat: 6)

Perkara-perkara yang beliau dengar seperti, “Si Fulan punya hubungan dengan pemerintah (thaghut),” lalu syaikh menemuinya untuk membuktikan dan ternyata ia justru menentang pemerintah. Pemerintah sangat tidak menyukai serta membencinya setengah mati. Semua itu karena prasangka dan hasad.

Rasulullah bersabda:

“Janganlah kalian saling mendengki, jangan bersaing dalam penawaran, sekadar untuk menjerumuskan orang lain, dan jangan benci membenci, jangan belakang membelakangi, dan janganlah sebagian kalian menjual atas penjualan orang lain, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR Muslim)

Sejak awal dakwah Rasulullah pun telah memperingatkan akan hal ini. Kabar-kabar yang lalu lalang janganlah ditelan mentah-mentah tanpa adanya klarifikasi yang benar. Apalagi zaman sekarang kabar-kabar tak jelas dengan mudahnya muncul di media dan setiap orang dapat menyebarnya melalui gerakan-gerakan jari pada smartphone.

Marilah kita berhati-hati, kabar berita apapun yang sampai pada kita. Pastikan itu suatu hal yang benar dan disampaikan oleh orang yang terpercaya. Karena sekali lagi cukuplah seorang dikatakan dusta, jika ia mengomongkan segala apa yang didengarnya. Wallahu a’lam bi shawab.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY