NEGARAISLAM

NEGARAISLAM.COM – Bagaimana sikap seorang muslim ketika melihat agamanya dihina atau dilecehkan? Apakah ia akan memilih santai dan tidak peduli atau dia akan bangkit berjuang untuk membela keyakinannya yang dilecehkan? Pilihan itu sejatinya ditentukan berawal dari bagaimana ia memahami firman Allah ta’ala berikut ini:

وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah merasa puas/ridha kepada kalian sampai kalian mau mengikuti millah (ajaran agama) mereka.” (QS. al-Baqarah [2]: 120).

Kemudian dalam ayat lain Allah pun menjelaskan bagaimana sikap seorang muslim yang sesungguhnya terhadap orang-orang kafir, firmanNya:

“Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya…”(QS. Al-Mujadilah: 22)

Orang-orang kafir telah mengawali berbagai bentuk perperangan terhadap Islam. Perancis adalah salah satu negara sekuler yang melakukan ekspansi militer ke beberapa negara muslim. Selain berambisi untuk menguasai wilayah, ia juga sangat arogan dalam menyebarkan ideologi sesatnya ke tengah-tengah kaum muslimin.

Lantas bagaimana sikap  kaum  muslimin dalam menghadapi permusuhan kafir sekuler itu? Sebagian di antara mereka ada yang memilih untuk melawannya dengan duduk santai di depan meja, membantah setiap propaganda musuh lewat gagasan-gagasan kosong yang sulit diterapkan. Sementara di sudut yang lain, ada yang mempersembahkan bukti perjuangannya secara nyata, yaitu dengan menyerang icon musuh tersebut. Apapun yang dimilikinya akan dimaksimalkannya untuk mencapai tujuan yang telah rencanakannya. Salah satu profil nyata dalam hal ini adalah adalah lone wolf dari Suriah, Sulaiman Al-Halabi Rahimahullah.

Mengenal Sulaiman Al-Halabi

Nama lengkapnya adalah Sulaiman Muhammad Amin Wanis Al-Halabi, lahir pada  tahun 1192 H atau bertepatan tahun 1777 M, di Desa Kukan, yaitu sebuah desa yang terletak di kota Aleppo, Suriah.

Ia menempuh pendidikan syariah selama tiga tahun di Universitas Al-Azhar dan melanjutkan tiga tahun lagi di Mekah dan Madinah. Di antara guru-gurunya yang masyhur adalah Syaikh Abdullah al-Ghazi, Syaikh Muhammad al-Ghazi, Syaikh Ahmad Wali. Semangatnya dalam menuntut ilmu, membuatnya rela untuk pergi ke beberapa negara muslim, di antaranya adalah; Mekah, Madinah, Al-Quds, Kairo dan Jazirah Arab lainnya.

Ketika menuntut ilmu di Al-Azhar, Sulaiman sempat mendaftarkan diri sebagai angkatan darat. Satu sosok yang mengajari dan menanamkan kebanggaan sebagai seorang muslim adalah syaikh Ahmad Asy-Syarqowi. Karena dialah akhirnya Sulaiman menjadi pemicu terjadinya revolusi Mesir dengan cara membunuh Kleber.

Awal mula kedatangan  Prancis ke  Mesir

Pada Mei tahun 1798, Napoleon Bonaparte melakukan ekspansi ke atas wilayah Mesir. Peristiwa ini terjadi tepat setelah 10 tahun sejak bergulirnya revolusi Prancis. Tujuan ekspansi ini adalah mengikuti ambsisinya untuk menghancurkan Inggris dengan cara mengendalikan Mesir serta merusak perdagangan antara Inggris dengan India. Napoleon juga bertujuan menjadikan Mesir sebagai pangkalan strategis Bagi Prancis di wilayah timur.[1]

Napoleon Bonaparte

Napoleon Bonaparte

Untuk menarik hati rakyat, Napoleon rela melakukan hal apapun itu asal terwujud keinginanya. Tersebarlah kabar di kalangan penduduk Mesir bahwa kedatangan Kaisar Prancis ini untuk membebaskan rakyat Mesir dari kezaliman para raja yang menguasai Mesir. Juga tersiar kabar bahwa Napoleon telah bersyahadat beserta pasukannya,padahal kabar ini adalah dusta besar.

Kemudian Napoleon Bonaparte memakai Sorban pergi ke al-Azhar, dia mengganti namanya dengan Abdullah. Dia menemui ulama-ulama al-Azhar dan berpidato dengan mengatakan bahwa dia ke Mesir untuk menolong rakyat Mesir. Dia berkata, “Saya adalah seorang muslim sejati, saya akan mengajarkan agama Islam kepada kalian.” Dan propaganda lainnya.

Salah satu dari ulama al-Azhar yang bernama Abdullah as-Sarqowi[2] berkata kepada Napoleon, “Wahai Napoleon, engkau ini datang dari negara Eropa dan kami mengetahui bahwa Eropa bukan negara Islam, maka mengapa engkau datang ke Mesir yang penduduknya beragama Islam dan mengerti agama Islam. Lebih baik engkau pergi ke negaramu mengajarkan Islam disana.” Maka marahlah Napoleon Bonaparte dan ulama al-Azhar pun mengetahui kedoknya.

Syaikh Abdullah Asy-Syarqawi

Syaikh Abdullah Asy-Syarqawi

Para ulama Al-Azhar telah mengetahui siasat licik pihak Prancis untuk mengelabui umat Islam. Melihat kenyataan kegagalan ini, maka Napoleon digantikan wakilnya untuk menduduki Mesir. Penggantinya adalah Jean Baptiste Kleber. Rupanya Kleber menggunakan cara yang berdeda dengan pendahulunya. IA menggunakan cara kekerasan dengan membunuh para ulama Al-Azhar yang dinilai sebagai motor penggerak perlawanan. Cara kasar seperti ini justru semakin memupuk semangat perlawanan rakyat Mesir. Justru muncul aksi-aksi perlawanan yang membuat Kleber kerepotan.

Salah satu perlawanan dipimpin oleh Ibrahim Bey yang mengajak segenap rakyat Mesir untuk bangkit. Perlawanan ini dibalas dengan tembakan Meriam oleh tentara Prancis. Bahkan pasukan penjajah ini menargetkan bangunan-bangunan masjid di Mesir. Selain itu, Prancis juga menghukum mati enam ulama Al-Azhar salah satunya adalah Profesor syaikh Ahmad Asy-Syarqowi, syaikh yang berjasa membangkitkan ghirah Sulaiman Al-Halabi.

Jean Baptiste Kleber

Jean Baptiste Kleber

Melihat kekejaman yang dipertontonkan Prancis, maka para pejuang segera melarikan diri untuk menyusun strategi baru. Termasuk juga Sulaiman yang pulang ke Damaskus setelah berdiam di Kairo selama tiga tahun. Tidak berselang lama, Sulaiman pun bergabung dengan salah satu kelompok  jihad melawan Prancis. Ia pun segera mengutarakan rencananya untuk membunuh jenderal Kleber kepada gurunya

“Bagaimana jika saya membunuh penguasa itu,” tanya Sulaiman

Gurunya menjawab, “Itu adalah perbuatan yang baik, karena orang Prancis ini telah merajalela dan menginjak-nginjak kehormatan kaum muslimin, dan dia musuh Allah.”

Ghirah jihad dalam diri Sulaiman pun bangkit. Ia pun merencanakan operasi ini dengan sangat hati-hati. Untuk mempelajari gerak-gerik sang jenderal, Al-Halabi melakukan apapun yang bisa ia lakukan, hingga pada akhirnya dia berhasil memperoleh data, yaitu setelah berupaya selama 31 hari lamanya. Tidak kepada sembarang orang ia umbar rencana ini hingga hari yang ditentukan itu datang.

Aksi Heroik Sulaiman Al-Halabi

Tepat pada tanggal 21 Muharram 1215 H atau 14 juni 1800 M, terjadi peristiwa heroik ini, yaitu ketika Jenderal Jean Baptiste Kleber berjalan berdua dengan salah seorang insinyur di sebuah kebun dirumahnya di al-Azbakya Kairo. Tiba-tiba nampak seorang (yaitu Sulaiman al-Halabi) mendekati jenderal Kleber, dia menampakkan dirinya seolah-olah membutuhkan untuk bertemu dengan jenderal Kleber.

Ketika ia berdekatan dengan sang jenderal dia mengulurkan tangannya yang kiri seolah-oleh hendak mencium tangan sang jenderal, lalu dia mengulurkan tangan kanannya dan menikam sang jenderal dengan pisau yang telah dipersiapkan dengan empat tusukan berturut-turut. Maka jenderal Kleber jatuh ke tanah, lalu teman sang Jenderal berteriak maka Sulaiman menikamnya dengan beberapa kali tikaman Kemudian dia lari, dan teriakannya terdengar tentara yang berada diluar pintu.

Ilustrasi Peristiwa Heroik Al-Halabi

Ilustrasi Peristiwa Heroik Al-Halabi

Segeralah para tentara tersebut masuk kebun dan mendapati Jenderal Kleber terbunuh. namun para tentara tidak mendapati pembunuhnya.  Lalu mereka memukul drum-drum (alat musik) dan segera keluar memeriksa segala penjuru mencari pembunuh.

Akhirnya Al-Halabi pun kemudian ditangkap, saat itu pedangnya masih berlumuran dengan darah. Ia pun segera dijebloskan ke dalam penjara, beragam siksaan dirasakannya. Tangan kanannya kemudian dibakar sehingga tulang putihnya kelihatan. Mereka tidak mau menghentikan siksaaan tersebut hingga ia mau menyebutkan seluruh jaringan kelompoknya. Akan tetapi Al-Halabi tetap teguh dengan pendiriannya dan tidak pernah membongkar tentang siapa pun dalam aksinya tersebut.

Akhirnya Al-Halabi dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi dengan cara ditusuk badannya dengan tongkat yang sudah diruncingkan. Lalu mayatnya dibiarkan terpampang di tengah-tengah kota selama tiga hari. Kemudian belati yang digunakan al-Halabi beserta tempurung tengkoraknya mereka letakkan di Mesium Dell Homme, Paris. Sejak saat itu Sulaiman Al-Halabi menjadi ikon dalam jihad dan revolusi, khususnya jihad secara individu atau yang selama ini diistilahkan dengan lone wolf (serigala tunggal).

Sumber

  1. Inspire, vol 14 th 1436/2015
  2. http://islamstory.com/ar/
  3. https://kurdsyria.wordpress.com/
  4. https://ar.wikipedia.org/wiki/
  5. http://markzaldawli.yoo7.com/t29663-topic
  6. SEKILAS SINGKAT TENTANG“INVASI” PEMIKIRAN (الغَزْوُ الفِكْرِي) Oleh : Ustadz Abdurrahman bin Abdul Karim Attamimi

[1] Namun, pada akhirnya usaha ini gagal , sehingga pada tahun 1801 M Pasukan Prancis meninggalkan Mesir  setelah tiga tahun lamanya menjajah negeri Nabi Musa, dan mereka mengalami kekalahan dahsyat saat berperang melawan pasukan Inggris dalam pertempuran armada kapal yang terkenal dengan “Pertempuran teluk Aboukir.”. Dalam pertempuran ini kurang lebih 1700 pasukan Perancis terbunuh, 600 terluka, 3000 tertawan, 3 kapal tertangkap, 9 terbakar, 2 frigate (kapal perang kecil) hilang. Sedang dipihak Inggris kurang lebih 218 meninggal dan 677 terluka.

[2] Syaikh Abdullah bin Hijazi bin Ibrahim asy-Syarqawi, salah seorang syaikh di al-Azhar pada abad13 hijriah. Dilahirkan di sebuah desa yang bernama at-Thawilah sebelah timur Mesir tahun 1150 H. Dia belajar di al-Azhar hingga menjadi seorang syaikh (pengajar) tahun 1208 H, meninggal pada tahun 1227 H. (http://ar.wikipedia.org/wiki)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY